fbpx

Apakah Sentient disebut sebagai Robot atau Manusia?

Halo Sobat FILE! Apakah kamu pernah menonton film Ex Machina? Film yang dibintangi oleh peraih piala Oscar, Alicia Vikander. Film ini mengulas tentang kecerdasan sebuah robot, yang menyerupai manusia...
sentient pada exmachina
Ex Machina (Sumber: bfi.org.uk)

Halo Sobat FILE!

Apakah kamu pernah menonton film Ex Machina? Film yang dibintangi oleh peraih piala Oscar, Alicia Vikander. Film ini mengulas tentang kecerdasan sebuah robot, yang menyerupai manusia atau yang biasa disebut humanoid. Kecerdasan dan kelicikan humanoid yang satu ini, mampu membuat penonton merinding.

Robot yang terdapat dalam Ex Machina, disebut sebagai robot yang sudah “sentient” oleh para ilmuwan. Robot yang sudah “sentient“, memiliki kecerdasan baik secara emosional, maupun intelektual yang setara atau bahkan melebihi kita. Mungkin terlintas di benakmu, “Ah, itu kan fiksi semata” Akan tetapi, Artificial Intelligence atau AI yang sudah menjadi sentient memang masih belum ada untuk saat ini. Namun, tahukah kamu seberapa dekat kita dalam mewujudkan hal ini menjadi realita? Oleh karena itu, Tanpa berlama-lama lagi langsung saja kita simak artikel berikut!

Sebenarnya, wujud AI itu seperti apa, sih?

Salah satu contoh wujud AI (Sumber: Komando.com)

Nah, bagi kamu yang belum tahu wujud AI seperti apa? Coba kamu perhatikan fitur-fitur yang ada di smartphone kamu. Jika kamu pengguna iOS, maka kamu bisa menemukan keberadaan Siri. Sementara itu Google Assistant hadir bagi kamu para pengguna Android, dan tak lupa juga, Cortana hadir bagi para pengguna Windows Phone. Ketiganya merupakan asisten pribadi yang bisa melakukan hal yang kamu perintahkan. Fitur umum yang terdapat dari smart assistant adalah mengatur alarm, dan membuat panggilan telepon. Sebuah kemajuan teknologi yang mengesankan, bukan? Nah, mereka adalah contoh AI yang bisa kita temui sehari-hari.

Kecerdasan yang mereka miliki memang belum seberapa. Namun, kemampuan mereka untuk terdengar seperti manusia dalam berbicara, dan merespon ucapan kita sudah cukup membuat mereka dikategorikan sebagai AI yang sentient. Namun masih dalam tingkatan yang sangat rendah.

AI yang “sentient” itu seperti apa, sih?

Salah satu penggunaan ai pada smart home yaitu Amazon Smart Home

Apakah kamu tahu film The Imitation Game yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch? Jika iya, pastinya kamu sudah tidak asing lagi dengan konsep Turing Test. Dalam Turing Test, seorang manusia dan komputer akan berinteraksi dengan seorang juri (manusia) melalui text-only channel, seperti keyboard dan monitor komputer sehingga mesin tidak perlu bergantung pada kemampuan untuk menirukan suara manusia. Jika sang juri tidak dapat membedakan interaksi diantara keduanya, maka AI dinyatakan pemenangnya dan dapat dikatakan memiliki tingkat sentience yang cukup tinggi. 

Apa saja sih, tingkatan sentience? Nah, tingkat nol adalah semua hal yang tidak sentient sama sekali, yaitu benda-benda mati. Lalu, tingkat pertama adalah segala makhluk yang memiliki insting untuk bertahan hidup, namun tidak memiliki akal untuk berargumen. Tingkat kedua dan yang terakhir adalah makhluk yang dapat berargumen dan berinteraksi dengan lingkungannya dengan baik. Untuk saat ini, hanya kita, manusia, yang berada pada tingkat ini, lho! Namun, AI yang lolos Turing Test dapat dikatakan memiliki tingkat sentience yang mendekati tingkat kedua.

Sistem bagaimana Turing Test bekerja (Sumber:javatpoint.com)

Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah ada AI yang sudah melewati Turing Test? Jawabannya adalah ya dan tidak. Nah loh, mengapa dikatakan demikian? 

Sejauh ini, hanya Google Duplex yang dapat dikatakan telah sukses melewati Turing Test lho! Google Duplex sendiri adalah teknologi AI yang bisa membantu kamu mereservasi tempat atau membuat janji pertemuan. Hal yang membuat Google Duplex ini spesial adalah kemampuannya untuk menirukan suara, serta gelagat manusia pada saat berbicara. Contohnya, saat kamu sedang berpikir atau merasa ragu, pasti kamu akan secara tidak sadar mengucapkan “Umm….” atau hal sejenisnya, bukan? Google Duplex juga mampu berbuat demikian.

Meskipun terkesan sangat keren dan canggih, banyak orang berargumen bahwa, Google Duplex tak dapat dibilang berhasil melewati Turing Test. Karena topik percakapan yang sempit dan Topik percakapan yang mereka kuasai hanyalah seputar membuat reservasi dan janji pertemuan. Jadi, masih terdapat perselisihan pendapat di dalam kalangan ilmuwan Artificial Intelligence mengenai hal ini.

Perkembangan terbaru AI

Sebuah robot memainkan piano

Tahukah kamu, tentang inovasi terbesar dalam perkembangan AI saat ini? Bagi yang belum tahu, inovasi tersebut merupakan jaringan saraf tiruan atau artificial neural network. Jaringan saraf tiruan merupakan cara para ahli teknologi meniru cara otak manusia bekerja dengan kode. Keren sekali, bukan? Mungkin untuk sekarang, hal ini terdengar sulit dan bahkan tidak masuk akal untuk diwujudkan bagi kamu, namun dengan bantuan statistik dan tren yang ada, maka hal ini akan menjadi lumrah dalam kehidupan kita nantinya.

Hukum Moore menyatakan bahwa perkembangan teknologi bertambah setidaknya 2 kali lipat setiap tahunnya. Jika kamu masih tidak yakin akan kebenaran hukum ini, sebuah laporan dari Universitas Stanford mungkin akan meyakinkanmu. Laporan tersebut menyatakan bahwa perkembangan AI dapat melebihi hukum Moore, yaitu berkembang 2 kali lipat setiap 3 bulan. Hal ini dapat terjadi karena AI dikembangkan secara open source, yang berarti siapapun, bahkan kamu, dapat berkontribusi untuk membantu perkembangan AI. 

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa penglihatan AI meningkat dengan sangat drastis. Mereka dapat mengenali tindakan dan aktivitas manusia dengan tingkat akurasi yang menakjubkan, yaitu mencapai 93%. Kemampuan ini sangat berguna untuk diterapkan pada teknologi kamera pengintai. Bayangkan saja, suatu saat nanti, gestur-gestur mencurigakan seseorang bisa diidentifikasi oleh AI sehingga tindak kriminal dapat dicegah. Keren sekali, bukan?

Hidup berdampingan dengan sentient AI, apakah mungkin?

Apakah mungkin kita sebagai manusia hidup berdampingan dengan robot? (Sumber: insurancethoughtleadership.com)

Hidup berdampingan dengan AI mungkin terdengar mengerikan. Bagaimana tidak? Kalau kamu melihat dalam film fiksi ilmiah, para robot akan selalu terobsesi untuk menguasai umat manusia. Namun, apakah di kehidupan nyata akan terjadi hal serupa? Mari kita simak pandangan orang-orang mengenai hal ini. 

Ada yang mencemaskan bahwa suatu saat nanti, kecerdasan AI bisa melampaui kecerdasan manusia, sehingga umat manusia dapat dikalahkan dan diperbudak. Fenomena ini disebut sebagai “technological singularity“. Namun, ada juga pihak yang merasa senang dan optimis bahwa kerjasama antara manusia dan AI dapat menghasilkan inovasi yang luar biasa dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. 

Keberadaan AI yang sentient akan mengubah hidup kita. Tantangan yang muncul akan terasa lebih sulit untuk dilalui. Tetapi, selalu ada pelajaran yang bisa kamu petik dari setiap kejadian, lho. Agar tak tertinggal oleh AI yang semakin pintar saja setiap harinya, kita sebagai manusia juga harus belajar dan berkembang setiap harinya untuk mengimbangi perkembangan teknologi yang ada. Selalu cermat dan tanggap dalam menghadapi perubahan, dan carilah cara untuk memperbaiki diri setiap harinya.

Nah, Sobat FILE, AI sangat menarik untuk dibahas bukan? Apakah kamu sudah siap untuk menghadapi perubahan dengan keberadaan AI yang sentient? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar! dan, bagi kamu yang tertarik mengetahui startup apa saja yang sudah menggunakan teknologi ai, bisa banget untuk cek disini. dan jangan lupa untuk follow instagram file disini ya. Sampai jumpa di artikel berikut Sobat file!

Bagikan ke sesama!
Categories
Tech CornerTech NewsUncategorized
Belum Ada Komentar

Tinggalkan Komentar

*

*

Newsletter

TERKAIT