6 Tips dan Tahap untuk Bangkit dari Kegagalan

Jika kita berpikir: “what do people have in common?”, jawabannya akan beragam. Mungkin ada yang mengatakan, “kita semua memiliki akal budi”, atau “kita semua memiliki karakter yang unik”, dan...

Jika kita berpikir: “ what do people have in common?”, jawabannya akan beragam. Mungkin ada yang mengatakan, “kita semua memiliki akal budi”, atau “kita semua memiliki karakter yang unik”, dan sebagainya. Dalam dunia bisnis, salah satu hal yang pasti dialami, what business people have in common, adalah pada satu atau beberapa titik dalam perjalanan karir mereka, mereka pernah gagal. Kegagalan bisa bermacam-macam. Mungkin saja bagi mereka yang memiliki bisnis agency, kehilangan klien penting karena mengalami masalah dengan berbagai pihak. Bisa saja mereka yang memiliki bisnis e-commerce, tidak mencapai target jumlah pengguna dikarenakan begitu banyaknya kompetitor. Di beberapa kasus, seorang pebisnis mungkin pernah mengalami kebangkrutan.

Di dunia yang serba menuntut ini, kegagalan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang “tabu” dan pastinya dianggap sebagai sebuah batu sandungan yang harus dihindari. Beberapa orang menganggap bahwa tidak ada hal positif yang bisa didapat dari kegagalan. Apakah itu benar?

Satu mindset yang kini seringkali diterapkan oleh banyak orang adalah, “it’s okay to fail ”. Hal ini bukan berarti kita “sengaja” gagal, namun berarti bahwa ketika mengalami kegagalan yang memang tidak dapat dihindari, kita tidak harus terus mengasihani dan menghukum diri kita sendiri. Sebaliknya, kita harus menerima kegagalan tersebut sebagai sebuah pelajaran yang berharga.

Sebuah quote terkenal dari Thomas A. Edison mengatakan: “I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.”, yang dapat diartikan bahwa ketika mengalami kegagalan, kita menyadari dan mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kita gagal. Pelajaran yang kita dapat begitu banyak dan berguna, sehingga kegagalan tersebut terasa bukan seperti kegagalan.

Adalah sebuah fakta yang diketahui banyak orang bahwa sangat banyak pebisnis sukses yang pada perjalanan karirnya pernah mengalami kegagalan. Sebut saja Bill Gates, Walt Disney, Steve Jobs, dan banyak tokoh lainnya. Kamu dapat membaca kisah mereka lebih lengkap di artikel berikut.

 

Bangkit dari Kegagalan

Lalu bagaimanakah cara untuk bangkit dari kegagalan? Kamu dapat melakukan 6 tahap berikut:

 

1. Menerima Kegagalan Tersebut

Ketika kamu mengalami kegagalan, mungkin adakalanya dimana kamu tidak menerima kegagalan tersebut. Kamu terus mengusahakan hal yang sebenarnya telah gagal. Hasilnya, kamu membuang tenaga dan biaya yang kamu miliki. Perlu dicatat bahwa mengakui bahwa kamu telah gagal dengan menyerah adalah 2 hal yang berbeda. Ketika kamu mengakui kegagalanmu, kamu akan menerima bahwa kegagalan tersebut adalah sebuah bagian dari proses untuk mencapai kesuksesan. Alhasil kamu akan berusaha mencari cara-cara lain untuk berhasil.

 

2. Keluarkan Kesedihanmu

Ketika kamu mengalami kegagalan, kamu perlu memberi waktu bagi dirimu untuk meratapinya. Jika kamu ingin menangis atau marah, lakukanlah hal itu, karena menahan perasaan dan hanya memendamnya bisa memberikan efek negatif. Namun, jangan terus tenggelam dalam perasaan negatif ini. Setelah kamu telah mencurahkan segala emosimu, lanjutkanlah dengan kembali bangkit dan move-on dari kegagalan tersebut.

 

3. Menerima Tanggung Jawab Penuh Atas Kegagalan Tersebut

Ketika kamu gagal, terimalah fakta bahwa kamu gagal bukan karena orang lain, bukan karena temanmu, atau bukan karena mitra bisnismu. Kamu gagal karena dirimu sendiri. Hal ini terkesan sangat sulit diterima, namun tahap ini sangat penting. Mengapa? Karena hanya dengan mengambil tanggung jawab atas kegagalan yang telah terjadi, baru kamu ingin benar-benar belajar untuk bangkit dan memperbaiki hal-hal yang menyebabkan kegagalan tersebut. Tak hanya itu, kemampuan leadership serta ketahananmu menghadapi tantangan juga ikut terlatih.

Hal ini tidak dapat kamu rasakan atau lakukan jika kamu terus menyalahkan orang lain ketika kamu gagal. Ketika kamu menyalahkan orang lain, kamu sedang menghindari fakta bahwa kamu masih harus belajar lebih banyak.

 

4. Membuat Daftar Mengenai Hal-Hal yang Salah

Kegagalan disebabkan oleh banyak faktor. Buatlah daftar dari faktor-faktor tersebut. Misalnya, kurangnya komunikasi antar tim, metode marketing yang salah, masalah di tahap perekrutan karyawan, dan sebagainya. Dengan selalu me-list kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, kamu bisa mengetahui hal-hal apa yang perlu kamu perbaiki dan kembangkan, serta menghindari untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang sama di waktu kedepan.

 

5. Membuat Action Plan untuk Memulai Kembali

Setelah kamu mengetahui apa saja kesalahanmu, buatlah perencanaan yang sederhana serta aplikatif untuk kembali bangkit dari kegagalan tersebut. Dari tahap-tahap sebelumnya, kamu belajar mengenai apa yang harus kamu hindari, dan apa yang harus kamu lakukan di waktu kedepannya. Gunakan segala ilmu dan pelajaran yang telah kamu dapat dari kegagalanmu untuk tahap ini, karena tahap ini memang membutuhkan banyak pemikiran dan pertimbangan.

 

6. Start Again

Terakhir, setelah melakukan tahap-tahap di atas, bangkit dan mulailah lagi. Setelah kamu mengalami kegagalan, kamu pastinya tidak sabar untuk mengatasi dan move-on dari kegagalan tersebut. Tetaplah semangat dan terapkan segala pelajaran yang telah kamu dapat. Ketika kamu telah mencapai kesuksesan, kamu akan tersenyum ketika mengingat kembali kegagalan-kegagalan yang telah kamu alami, karena berkat merekalah kamu dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi.

 

Seperti yang orang-orang katakan, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dari kegagalan, kamu mempelajari banyak hal. Tak hanya itu, kamu melatih ketahanan serta kemampuan leadership-mu. Kamu menyadari hal-hal apa saja yang harus kamu perbaiki dan pelajari. Kegagalan memang tidak menyenangkan, namun ia juga adalah “guru” yang dapat memberikanmu banyak ilmu. So, don’t be afraid of failure, but be afraid of not wanting to stand back up.

Bagikan ke sesama!
Categories
Inspiration
Belum Ada Komentar

Tinggalkan Komentar

*

*

Newsletter

TERKAIT